Pembangunan Ibu Kota Negara Libatkan Masyarakat Lokal Hingga Kembangkan Sektor Industri Digital dan Inovasi
Pembangunan Ibu Kota Negara Libatkan Masyarakat Lokal Hingga Kembangkan Sektor Industri Digital dan Inovasi
DEPOK
– Membangun Ibu Kota Negara (IKN)
tidak hanya menyiapkan infrastruktur dan lingkungannya saja, tetapi juga
manusianya, baik yang akan pindah maupun yang telah lama menetap. Untuk
membahas pentingnya aspek sosial budaya dalam rencana pembangunan IKN,
Kementerian PPN/Bappenas menyelenggarakan Dialog Nasional VII Pemindahan Ibu
Kota Negara: “Membangun Kualitas Kehidupan Sosial Budaya” pada Selasa (25/2),
di Balai Purnomo Prawiro Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.
“Kementerian
PPN/Bappenas telah memproyeksikan jumlah penduduk dan urbanisasi yang akan
terjadi di Ibu Kota Negara. Saat ini, penduduk setempat Ibu Kota Negara
tercatat 100 ribu jiwa. Jumlah tersebut diperkirakan bertambah menjadi 700 ribu
jiwa di 2025, kemudian berkembang menjadi 1,5-1,6 juta jiwa di 2035, hingga
mencapai perkiraan 1,7-1,9 juta jiwa di 2045. Berdasarkan ini, kita akan
merancang desain kotanya seperti apa, sistem transportasi, gedung, dan lainnya.
Selain itu, kami tetap memastikan lingkungan hidupnya terjaga,” jelas Deputi
Bidang Pengembangan Regional Kementerian PPN/Bappenas Rudy Prawiradinata.
Kalimantan
Timur sejak dulu telah memiliki struktur sosial yang beragam. Sekitar 1,5 juta
pendatang yang terdiri atas Aparatur Sipil Negara (ASN),
TNI dan POLRI beserta keluarganya, serta pelaku ekonomi lainnya akan hadir di
wilayah IKN. Oleh karena itu,
pemindahan IKN ke Kalimantan Timur
perlu dipersiapkan sebaik mungkin agar tidak menimbulkan masalah yang tidak
kita inginkan. Pemahaman yang komprehensif mengenai karakterisik sosial,
ekonomi, maupun budaya masyarakat akan membantu Indonesia mewujudkan IKN yang “Smart,
Green, Beautiful, dan Sustainable”.
Pada
2018, jumlah penduduk Kalimantan Timur sebesar 3,6 juta jiwa diproyeksikan akan
meningkat menjadi 5-7 juta jiwa di 2025, kemudian 8,7-9,7 juta jiwa di 2035,
dan mencapai 10-11 juta jiwa di 2045. Hal ini terjadi karena pemerintah tidak
hanya mengembangkan wilayah IKN saja, tetapi juga wilayah sekitarnya. Deputi
Rudy juga menyatakan tidak ingin membuat IKN menjadi enclaved, sementara
wilayah sekitarnya tidak berkembang atau didiamkan secara alami, tetapi
pemerintah justru ingin memastikan pembangunan IKN dan wilayah sekitarnya
berimbang. Beliau berharap Bappeda dapat menyiapkan pelatihan vokasi serta
Balai Latihan Kerja (BLK) untuk jenis pekerjaan yang bisa dikembangkan.
Menurut
Deputi Rudy, terdapat beberapa sektor yang akan dikembangkan di IKN agar
masyarakat setempat dapat turut berpartisipasi dalam pembangunan IKN. “Mulai
dari sektor layanan, pendidikan tinggi, dan industri digital dan inovasi, ini
yang akan kita kembangkan di kawasan Ibu Kota Negara. Sektor-sektor ini akan menarik
penduduk baru ke sana karena dalam urbanisasi, masyarakat tidak akan mau
berpindah kalau tidak ada kesempatan baru. Kita juga akan mempersiapkan
masyarakat setempat supaya bisa berpartisipasi dalam pembangunan Ibu Kota
Negara. Ini akan menyerap tenaga kerja yang signifikan, belum lagi saat nanti
Ibu Kota Negara sudah berkembang akan ada demand-demand baru yang cukup
signifikan dari sisi pertanian, ekonomi kecil menengah, dan lainnya,” jelas
Deputi Rudy.
Dalam
mewujudkan IKN yang majemuk dan harmonis sesuai dengan identitas bangsa
Indonesia, diperlukan pemahaman dan perencanaan aspek sosial-budaya dan
sosial-ekonomi yang komprehensif. Perencanaan aspek sosial dilaksanakan dengan
memastikan faktor-faktor, seperti penerimaan masyarakat, peningkatan kualitas
SDM, pemanfaatan dan pengembangan kearifan lokal, sumber-sumber penghidupan
masyarakat, serta peran berbagai pihak termasuk generasi milenial dalam
pembangunan IKN.
“Sektor
penyerapan tenaga kerja terbesar adalah perdagangan dan pertanian, tetapi
penciptaan kesempatan kerja terbesar terjadi di sektor jasa pendidikan dan baru
disusul perdagangan,” jelas Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan
Kementerian PPN/Bappenas Pungky Sumadi.
Perbedaan
karakteristik sosial budaya antara masyarakat setempat dan pendatang perlu diantisipasi
sejak awal dan ketahanan masyarakat secara ekologi, ekonomi dan sosial budaya dapat
terwujud.
“Kearifan
ekologi dan kebudayaan masyarakat yang mempengaruhi cara hidup secara turun
temurun, harus terus dilestarikan dan dapat dimanfaatkan bagi pembangunan Ibu
Kota Negara,” jelas Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sosial dan Penanggulangan
Kemiskinan Vivi Yulaswati.
Kementerian
PPN/Bappenas telah melaksanakan berbagai kajian, termasuk aspek demografi,
sosial dan budaya dalam pemindahan IKN. Kajian yang dilakukan merupakan tahap
awal, yang perlu didiskusikan dan didalami lebih lanjut dengan berbagai pakar.
“Kota
hanya berarti kalo ada masyarakat. Kalo kita berbicara masyarakat, kita bicara
konektivitas budaya, bukan sekedar beton, bukan sekedar pabrik, dan bukan
sekedar jalan, tapi adalah manusia dan manusia adalah makhluk sosial,” jelas
Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro.
Dosen
Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gadjah Mada Laretna Adishakti juga
mengungkapkan pentingnya pembangunan dengan perspektif budaya yang menyeluruh.
“Membangun
Ibu Kota Negara merupakan sebuah legacy yang dilakukan manusia. Semoga nantinya
Ibu Kota Negara menjadi saujana pusaka yang tetap mempertahankan kearifan
lokal,” jelas Laretna.
Dialog
Nasional VII Pemindahan Ibu Kota Negara: “Membangun Kualitas Kehidupan Sosial
Budaya” dilaksanakan Kementerian PPN/Bappenas bekerja sama dengan FISIP
Universitas Indonesia untuk mendapatkan masukan yang konstruktif agar
Masterplan Pembangunan IKN yang akan segera disusun dapat menerapkan prinsip
inklusif, lestari, berkelanjutan, serta mampu mendukung pertumbuhan ekonomi
yang mendorong pemerataan ke seluruh wilayah Indonesia. Diskusi publik ini akan
terus dilaksanakan sebagai bentuk pelibatan publik, terutama dari generasi
milenial di lingkungan kampus. Suara milenial akan sangat mempengaruhi wujud
IKN kita ke depan sebagai the Best City on Earth.
“Mimpi
Bapak Jokowi adalah membuat Ibu Kota Negara menjadi pusat kluster inovasi dan
riset dunia. Di sinilah peran aktif milenial dibutuhkan untuk mewujudkan
keinginan tersebut,” ujar Staf Khusus Presiden Billy Mambrasar.
*Disusun oleh Biro Humas dan Tata Usaha Pimpinan Kementerian PPN/Bappenas dan Tim Komunikasi Pemerintah Kementerian Kominfo
