Bicara tentang Medsos Bareng Pelajar SMPN 5 Kebumen, Tak Semua Siswa Pahami Efek Negatifnya
Bicara tentang Medsos Bareng Pelajar SMPN 5 Kebumen, Tak Semua Siswa Pahami Efek Negatifnya
DISKOMINFO - Media sosial bukan hal yang asing bagi siswa saat ini. Punya lebih dari satu akun media sosial juga bukan pemandangan baru di kalangan siswa. Namun sayangnya belum banyak siswa yang tahu, ada banyak dampak negatif dari bermain medsos jika tanpa kontrol.
Itu terungkap saat Dinas Kominfo berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan pembelajaran 'Pembentukan Karakter' di SMP Negeri 5 Kebumen, Rabu (8/2/2023).
Saat berlangsung tanya jawab dengan para pelajar kelas VII sekolah itu diketahui, belum banyak banyak siswa yang memahami batasan dalam bermedsos.
Beberapa siswa mengatakan kerap menghabiskan banyak waktu untuk berselancar di dunia maya sampai lupa mengerjakan tugas sekolah. Tak sedikit pula yang mengaku tak kenal dekat dengan teman di sekolah namun punya banyak followers atau pengikut di akun medsosnya.
"Media sosial memiliki sisi hiburan, selain itu banyak hal positif yang bisa diambil saat kita bermain medsos, namun sebaliknya, banyak juga sisi buruk sebagai dampak dari medsos. Salah satunya kecanduan," jelas Dian dari Bidang IKP Dinas Kominfo Kebumen.
Dian juga menjelaskan, media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian siswa. Kontrol diri sangat penting dilakukan, baik dari para siswa itu sendiri, maupun kontrol langsung orang tua.
"Main medsos boleh-boleh saja, banyak manfaatnya juga, tapi kalau sampai menjadi sebuah keharusan dan waktu habis tersita hanya untuk itu, apa urgensinya? Apakah itu suatu kebutuhan karena ada keharusan yang berkaitan dengan nilai akademis, atau semacam keharusan dari sekolah untuk punya akun media sosial, sekedar mengikuti trend, atau malah sudah semacam candu, merasa ada yang kurang jika tak buka medsos?," tegas Dian.
Ia pun menjelaskan, bahwa media sosial memang memiliki dua sisi berbeda. Bisa menimbulkan dampak positif sekaligus dampak negatif. Siswa yang mempunyai bekal budi pekerti akan menggunakan media sosial untuk hal yang baik. Namun bagi siswa yang kurang pengawasan, bukan tidak mungkin akan memakainya untuk hal yang buruk.
Dian juga menambahkan, bahwa media sosial seperti sebuah ruang yang kerap membuat asik penggunanya.
"Jika bosan dengan satu aplikasi, bisa beralih ke aplikasi lain. Tanpa sadar kita telah kehilangan banyak waktu dan hal ini berefek pada sikap intoleran. Serasa punya dunia sendiri sehingga tidak peka lagi terhadap hal-hal disekitarnya," tambahnya.
Kecenderungan siswa dalam bermedsos tanpa tahu batasan juga diungkap Kepala Sekolah SMPN 5 Kebumen, Tjandra Agustina Dewanti. Ia berharap, literasi siswa tentang media sosial terus bertambah namun hal itu tidak menganggu adanya pembentukan karakter dari siswa.
"Bicara mengenai karakter anak didik sekarang ini, banyak wacana yang memberitakan akan minimnya karakter baik yang dimiliki siswa. Itulah sebabnya pada kurikulum ini dititikberatkan pada pendidikan budi pekerti. Kami ingin siswa tidak gaptek namun juga paham batasan dalam bermedsos," jelas Tjandra.
Tjandra menambahkan, bahwa budi perkerti adalah hal utama yang seharusnya ditanamkan pada anak didik. Karena budi pekerti mampu membentengi siswa dari hal baru yang dapat merusak pribadi mereka. (dp/gp)
