Beredar Laporan Disinformasi Di Tengah Pandemi Corona
Beredar Laporan Disinformasi Di Tengah Pandemi Corona
DISKOMINFO - Di tengah pandemi Corona (Covid-19), masyarakat dihebohkan dengan beberapa laporan disinformasi (isu hoax) yang banyak beredar di media sosial. Seperti laporan berita penularan klaster Jabalsari, Tulungagung yang menyebar ke sejumlah desa di Kecamatan Boyolangu dan Kecamatan Sumbergembol. Faktanya, tidak ada penularan di sejumlah desa dan kecamatan tersebut.
Disinformasi yang kedua mengenai informasi hoax pada artikel tentang seorang peraih Nobel Kedokteran Asal Jepang bernama Profesor Tasuku Honjo yang mengklaim virus Corona bukan virus alami dan rekayasa Cina. Faktanya, Tasuku Honjo hanya menyatakan perlunya meningkatkan tes PCR untuk mendeteksi infeksi virus dan himbauan untuk penduduk di Tokyo, Osaka, dan Nagoya untuk menahan diri dari berpergian.
Disinformasi ketiga yakni beredarnya informasi hoax di media sosial Facebook terkait poster digital pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sumenep. Faktanya, KPU Sumenep tidak mengeluarkan publikasi apapun terkait Pilkada karena Pilkada Sumenep ditunda selama pandemi Corona.
Selanjutnya berita hoax yang berasal dari foto hasil tangkapan layar dari artikel yang dimuat media online Kompas.com berjudul “Gibran: Kata Bapak, Jadi Pemimpin Itu Tidak Perlu Pintar, Makanya Saya Akan Mencalonkan Diri Menjadi Walikota”. Faktanya, Kompas.com tidak pernah menayangkan judul tersebut. Foto hasil tangkapan layar dari artikel yang memuat judul tersebut adalah hasil dari editan judul asli artikel “Gibran: Bila Patuh Anjuran Pemerintah, Wabah Corona Segera Usai”.
Pandemi Covid-19 yang menjadikan adanya isolasi diri untuk tidak keluar rumah juga menimbulkan beredarnya informasi hoax berupa video yang diunggah di media sosial yang menyebutkan satu keluarga di Medan tidak makan berhari-hari dan diusir dari kontrakan. Faktanya, keluarga tersebut diusir dari rumah kontrakan karena tidak mampu membayar biaya sewa. Selain itu, beredar informasi hoax yang mengabarkan tentang pemberlakuan lockdown di Sumbar dimulai Senin, 27 April 2020. Faktanya, Gubernur Sumbar tidak pernah mengambil kebijakan lockdown, melainkan PSBB, yang mana hanya membatasi aktivitas tertentu khususnya di wilayah yang diduga terinfeksi Covid-19.
Video hoax berikutnya yang beredar di media sosial Whatsapp yang kontennya berupa pejemputan satu keluarga yang positif Covid-19 di Purwakarta. Faktanya, pejemputan satu warga positif Covid-19 ini bukan di Purwakarta, melainkan di daerah Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Beredar pula disinformasi mengenai pernyataan Jokowi yang sedang viral di media sosial terkait perbedaan mudik dengan pulang kampung. Hal ini menimbulkan beredarnya informasi di media sosial berupa postingan yang di capture dari artikel yang berjudul “Jokowi: Sengaja Saya Bedakan Mudik & Pulang Kampung, untuk Mengelabui Virus Corona”. Faktanya, judul artikel tersebut editan dari judul artikel asli “Jokowi Ditanya Soal Mudik Saat Corona: Itu Pulang Kampung”. Selain itu, disinformasi pemberitaan Presiden Jokowi yang dimuat di sebuah artikel media online Kompas.com dengan judul “Pidato Lengkap Jokowi, Negara Kita Tidak Pernah Berutang, Hanya melakukan Pinjaman Luar Negeri”. Faktanya, artikel dengan judul tersebut adalah hasil suntingan karena bukan pidato Jokowi yang terkait dengan utang dan pinjaman luar negeri. Namun merupakan pidato Jokowi terkait PSBB, listrik gratis hingga keringanan kredit.
Disinformasi berikutnya tentang foto jenazah yang diduga jasad Kim Jong Un seorang Presiden Korea Utara yang menjadi trending di media sosial dengan hastag #Kimjongundead. Faktanya foto tersebut adalah hasil editan dari foto pemakaman Kim Jong-II mantan pemimpin Korea Utara yang dimakamkan dalam peti mati kaca.
Selanjutnya beredar pesan berantai hoax di media sosial Whatsapp tentang informasi adanya aktivitas maling pembobol rumah warga Sukoharjo dan dalam pesan tersebut disertai foto pelaku pembobol rumah kosong meninggalkan pesan berupa “xxx” di rumah korban. Faktanya, benar telah terjadi maling bobol rumah warga di Sukoharjo ketika pemilik rumah sedang salat tarawih di masjid, namun pelaku pembobol rumah tidak meninggalkan tanda “xxx” di rumah korbannya.
