Berita / Publikasi / Detail

Medsos Dapat Menggerakkan Partisipasi Aktif Masyarakat Dalam Pembangunan

Publikasi 15 Mei 2018 14:46:35 WIB Administrator dibaca 177 kali

KOMINFO KEBUMEN - Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi, Provinsi Jawa Tengah diwakili Kabid IKP, Ibu Evi, membuka acara bertajuk Sosialisasi Kebijakan dan Hasil Pembangunan melalui komunitas Media Sosial bertempat di gedung ex. Dieng Cinema, Wonosobo, Senin malam (14/5). Hadir pada kesempatan itu utusan dari Diskominfo Kebumen, Diskominfo Purworejo, Diskominfo Temanggung, Diskominfo Banjarnegara dan Diskominfo Wonosobo sebagai tuan rumah penyelenggara. 

Informasi panitia menyebutkan bahwa acara seperti ini sudah empat kali diadakan  di tempat yang berbeda. Adapun pendanaan berasal dari Diskominfo Provinsi Jateng.  Selain jajaran Dinas, tampak hadir berbagai komunitas media sosial yang ada di Wonosobo dan sekitarnya. Komunitas yang umumnya anak muda ini sangat antusias mengikuti acara sosialisasi yg dikemas  apik dan santai itu.

Mas Alfa misalnya, Ia mewakili komunitas usahawan Carica (oleh-oleh khas Dieng) disamping jualan lewat internet mengelola pula Kampung Digital "Kumandang". Di kampung digital ini netizen bisa bertransaksi dan mencari informasi berbagai hal tentang Wonosobo. Hadir pula komunitas anak muda yang sudah tidak asing bagi masyarakat Wonosobo seperti Wonosobo Mengajar, Swara Muda, serta berbagai komunitas lain yang tidak sempat kami temui. Bahkan ada pula komunitas yang unik dari Wonosobo yaitu komunitas  penulis konten di media sosial maupun situs internet. Komunitas ini didominasi cewek-cewek cantik dan cerdas. "Jadi kalau situs anda kosong maka komunitas ini bisa membantu secara profesional" ungkap Erwin, co host sekaligus pembicara.  Ada pula komunitas cuma beranggotakan dua orang yaitu Komunitas Suling. "Mencari anggota untuk komunitas ini tidak mudah karena jarang yang bisa bermain suling dan pas dengan konsep komunitas", ujar Erwin mengenalkan komunitas ini sesaat sebelum komunitas ini membawakan puisi karya KH. Mustofa Bisri. 

Pembica pertama Septiaji atau biasa dipanggil mas Aji merupakan aktivis anti hoax dan Ketua Mafindo, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia. Saat ini masih studi di Jerman setelah sebelumnya tamat dari ITB. 

Ia merasa resah dengan kondisi medsos saat ini. "Apakah medsos akan begini-begini saja ?!" Tanya aktivis medsos berambut gondrong ini. Pertanyaan retoris ini dia jawab "tentu saja tidak !!". Lanjutnya, "Melawan hoax tidak cukup dengan teriakan anti hoax. Media sosial harus diisi dengan konten-konten yang positif. Saat ini pembuat konten dan pen share konten perbandingannya 10 : 90. Belum lagi konten-konten yang dibagikan belum tentu valid alias hoax" 

Betapa riuhnya jagat medsos dalam ketidakwarasan apabila orang-orang baik diam. Septiaji mencontohkan hoax dibidang kesehatan yg mengatakan pertolongan pertama pada orang yang terkena stoke adalah dengan menusuk jari korban hingga keluar beberapa tetesan darah.  Berkat konten ini, sebutnya, sudah banyak korban yang meninggal. Karena terkena stroke harusnya secara cepat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis IGD. Bahkan adapula kasus terkena serangan jantung diterapi dengan tusuk jari tadi bukan kesembuhan namun kematian karena terlalu lama tidak mendapatkan pertolongan yang semestinya.

Septiaji mengajak para netizen untuk  melawan hoax dengan konten positif. Beberapa upaya yang bisa dilakukan yaitu Pertama, jangan hanya fokus di medsos, kita ramaikan juga Blog untuk penulisan opini yang komprehensif. Kedua, berjejaring dengan netizen kreatif di seluruh Indonesia. Ketiga, ikut aktif dalam mendukung gerakan pemerintah, promosi pariwisata, ekonomi, potensi desa dan seterusnya.

Pembicara kedua, Erwin dari Wonosobo Ekspres menyoroti tentang perkembangan jurnalisme warga yang makin dipercaya masyarakat. Bahkan dalam beberapa hal warga lebih memercayai jurnalisme warga dibanding media mainstrem. Namun harus diakui bahwa netizen masih enggan membuat berita. Padahal membuat berita itu mudah. Masing-masing orang memiliki keunikan sehingga dalam jurnalisme warga tidak ada batasan yang ketat untuk menuliskannya. Pun dalam membuat video misalnya, seringkali video yang apa adanya, alami tanpa editing sering menjadi viral. Ini artinya keunikan adalah berita itu sendiri. "Netizen bisa menjadi jurnalisme warga dimasing-masing lingkup dan aktivitasnya. Standarnya adalah obyektif dan positif, itu saja" ungkap jurnalis muda ini.

Diakhir sesi dialog, Fatonah moderator acara, menampilkan mas Aldo pengelola akun Twitter #Kemala Jateng. Akun ini, terang Aldo diperuntukkan menampung keluhan masyarakat terhadap pembangunan di Provinsi Jawa Tengah. Ia berharap masyarakat di manapun di wilayah Jawa Tengah agar masyarakat dapat menyampaikan keluhan pada akun twitter #Kemala Jateng 

Sebelumnya saat memberi sambutan pengantar Kabid IKP, Ibu Evi,  mewakili Kepala Diskominfo Jateng mengingatkan bahwa hidup di era canggih Teknologi Informasi ini bermedsos merupakan sesuatu yang niscaya. Apa yang disampaikan oleh teman-teman sangat berpengaruh terhadap perilaku dan pandangan masyarakat pada kebijakan yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Oleh karena itu perlu ada trik khusus agar informasi itu menjadi menarik yang akhirnya bisa menggerakkan masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam pembangunan. (admin/sna)